BI Waspadai Perlambatan Ekonomi Global 2026, Konflik Timur Tengah Dinilai Picu Tekanan Inflasi
By Admin

Bank Indonesia/ Dok. Ist
nusakini.com, Jakarta — Bank Indonesia (BI) memperingatkan potensi perlambatan ekonomi global pada 2026 seiring berlanjutnya konflik di Timur Tengah yang memicu gangguan rantai pasok dan kenaikan harga komoditas dunia.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan pertumbuhan ekonomi dunia tahun depan diperkirakan hanya mencapai 3 persen. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya. Di sisi lain, inflasi global diperkirakan meningkat hingga sekitar 4,3 persen.
“Prospek pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2026 diperkirakan akan lebih rendah menjadi sebesar 3,0 persen dan tekanan inflasi global meningkat menjadi sekitar 4,3 persen,” kata Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Rabu, 20 Mei 2026.
Menurut Perry, konflik berkepanjangan di Timur Tengah telah memengaruhi perdagangan internasional dan mendorong kenaikan harga energi, terutama minyak mentah. Kondisi tersebut turut memicu respons kebijakan moneter yang lebih ketat di sejumlah negara.
BI juga memperkirakan bank sentral Amerika Serikat (AS) belum akan menurunkan suku bunga acuannya hingga akhir 2026. Bahkan, terdapat kemungkinan kenaikan suku bunga pada 2027 apabila inflasi AS masih tinggi.
Selain itu, Perry menyoroti kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Hingga 19 Mei 2026, yield US Treasury tenor 10 tahun tercatat mencapai 4,66 persen, sedangkan tenor dua tahun berada di level 4,11 persen.
Menurut BI, kenaikan yield tersebut dipengaruhi meningkatnya defisit fiskal AS dan tingginya permintaan investor terhadap instrumen safe haven. Situasi ini dinilai mendorong arus modal keluar dari negara berkembang menuju aset dolar AS yang dianggap lebih aman.
Penguatan dolar AS akibat gejolak global juga disebut memberi tekanan terhadap mata uang berbagai negara, termasuk rupiah.
Dalam menghadapi kondisi tersebut, BI menilai diperlukan penguatan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter guna menjaga stabilitas ekonomi nasional dan memperkuat ketahanan eksternal Indonesia. (*)